Loading Now
×

Bagian 1 – Kertas Novel

Cluster Mutiara Asri punya 32 rumah, dua diantaranya adalah gudang dan tempat tinggal satpam. Di cluster ini terdapat banyak pohon besar, rimbun dan asri. Bunga Bougainvillea, pohon bonsai, anggrek, melati, dan peony tampak indah di taman tengah cluster. Suasana itu semakin hangat jika malam hari tiba, dengan lampu taman oranye redup. Rasa aman pun melekat disana dari setiap kamera CCTV yang terpasang di tikungan. Hidup di sini tenang. Terlalu tenang.

Dinda, pindah ke sini tiga bulan lalu bersama suaminya, Rendra. Setiap pagi, alarm Dinda bunyi pukul 05.30. Dia matikan, lalu duduk di tepi tempat tidur selama tiga menit. Mendengar suara burung, mesin pemotong rumput, suara sandal jepit Pak RT lewat depan pagar bahkan suara semprotan air menyiram tanaman.
Pukul 06.00 Dinda membuka tirai ruang keluarga.
Rumah di seberang, nomor 14 masih gelap. Sejak dia pindah tiga bulan yang lalu, rumah di seberang selalu tertutup.

Tirai abu-abu tebal tampak dari kejauhan yang tak pernah berganti, sebagai penanda rumah itu kosong. Dinda dulu iseng nanya ke Bu RT, jawabannya: “Oh, keluarga itu memang suka privasi, Bu.”

Santai. Normal. Nggak aneh-aneh amat.

Pukul 07.00 suaminya, Rendra, berangkat kerja. Dinda kerja dari rumah sebagai editor yang bekerja work from home. Hari ini dia ngedit naskah tentang ketahanan pangan yang digembar-gemborkan oleh pemerintah. Semuanya tampak normal.

Pukul 09.30 bel rumah berbunyi.

“Selamat pagi, Bu. Sampahnya sudah diangkut?” tukang kebun bernama Maryono tersenyum. Setiap Selasa dan Kamis dia datang, selalu dengan pertanyaan yang sama.
“Sudah, Pak. Makasih.”
Begitu seterusnya.

***

Jumat malam, Dinda pinjam novel dari rumah nomor 12 Bu Maya, yang suka baca dan selalu punya stok terbaru. Dinda biasa ambil, baca, balikin. Prosesnya aman. Saling sapa lewat WhatsApp.
Tapi kali ini, di halaman 47 novel yang dia pinjam, ada secarik kertas. Tulisan tangan:

“Jangan minum air keran setelah jam 10 malam. Mereka kasih obat.”
Dinda tertawa kecil. Mungkin bookmark iseng atau bagian dari teka-teki novelnya? Dia cek genre novelnya, komedi-romantis.

Dia foto kertas itu. Kirim ke Rendra. Balasan Rendra di WA
“Haha, warga sini emang unik,”
Lalu Dinda pun melupakannya begitu saja.

***

Sampai seminggu kemudian, Bu Maya datang sendiri ke rumah. Wajahnya pucat. Matanya sayu, tidak seperti biasa.

Ia pun datang dengan tergopoh-gopoh sejak menapakkan kaki di halaman rumah Dinda.
“Bu Dinda, minggu lalu saya kasih novel ibu yang mana, ya? Saya lupa catat,” katanya.

Dinda memberi tahu judulnya. Bu Maya mengangguk. “Oh. Itu novel lama. Ibu sudah baca?” tanya Bu Maya

“Belum, baru sampai halaman 18 Bu,” kata Dinda.

Bu Maya tersenyum. Tapi senyum yang buru-buru ditutup.

“Jangan diteruskan kalau nggak selesai, Bu. Bukunya lumayan tebal.”
Diapun seketika pamit tanpa basa-basi

Hanya sekedar bertanya itu saja. Apakah itu sebagai sesuatu hal yang aneh? Itu kembali kepada lingkungan tempat tinggal masing-masing dengan berbagai karakter warganya.

Dinda berdiri di pintu, agak bingung. Dia balik ke ruang tamu, mengambil novel itu, lalu membuka kembali halaman 47. Ya, Dinda berbohong kepada Bu Maya. Sesaat dia berasa ada yang aneh. Dinda bingung, apakah novel ini di taruh diluar atau di dalam saat dia membaca kemarin.

Kertasnya sudah tidak ada.

***

Dinda ingat persis dia menyelipkan kertas itu di antara halaman 48 dan 49. Tapi sekarang tidak ada.

Pertanyaan yang mulai mengganggu tidurnya nanti malam.

Siapa yang masuk rumahnya dalam seminggu terakhir, mengambil kertas itu. Dan kenapa Bu Maya tiba-tiba datang menanyakan novel yang dia sendiri yang memberikannya?

Post Comment